Membentuk hidup bersama COVID-19

Membentuk hidup bersama COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Tidak ada garansi kapan kehidupan normal yang periode (old normal) akan kembali, karena hingga saat ini vaksin & obat spesifik untuk COVID-19 belum berhasil diciptakan. Para peneliti di seluruh dunia masih terus berupaya menemukan vaksin dan obat.

Mau tidak mau, pilihannya adalah harus beradaptasi, harus berupaya membuat kehidupan normal baru (new normal) untuk mampu hidup bersama COVID-19.

Skenario kehidupan normal baru itu harus disiapkan sebagai langkah antisipasi karena tidak tersedia yang menjamin vaksin dan obat COVID-19 dapat diciptakan dalam waktu segera. Sementara kegiatan ekonomi menetapkan terus berlanjut demi menyokong kesibukan masyarakat dan negara.

Kehidupan normal baru itu hendak menjadi upaya masyarakat untuk membuat ketahanan terhadap kondisi saat ini.

Pandemi COVID-19 sudah memberikan dampak yang besar untuk melesunya ekonomi. Sebagian kegiatan ekonomi lumpuh, sebagian masyarakat mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), sebagian sedang dirumahkan dengan digaji sebagian ataupun bahkan tanpa digaji.

Dunia usaha sebagian masyarakat terdampak dan mulai lesu. Tak bisa dipungkiri ada perusahaan yang terdesak tak beroperasi atau mati suri karena tidak lagi mendapat order barang.

Beberapa sektor industri terdampak sehingga mengakibatkan kurang permasalahan secara umum diantaranya kira-kira kontrak pembayaran yang tertunda bahkan ada yang mengalami pembatalan order, utilisasi produksi menurun akibat kemerosotan permintaan dan penjualan beberapa industri.

Menangkap juga: Kementerian BUMN: Kewajiban pegawai BUMN kerja 25 Mei hoaks

Baca juga: BUMN diminta miliki task force penanganan COVID-19

Investasi merosot

Pada awal April, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mengatakan perekonomian Indonesia berpotensi hanya tumbuh 2, 3 persen atau dengan ringkasan terburuk akan terkontraksi hingga 0, 4 persen akibat adanya epidemi COVID-19.

Wabah virus Corona menyebabkan kegiatan ekonomi melandai serta menekan kegiatan lembaga keuangan sehingga berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi jauh dari target APBN 2020 yakni 5, 3 persen.

Tak hanya itu, Sri Mulyani mengatakan untuk investasi akan merosot cukup tajam dari tumpuan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar 6 persen yaitu diperkirakan hanya berada di tangga 1, 12 persen pada ringkasan berat dan negatif hingga 4, 22 persen untuk skenario terberat.

“Transmisi kesehatan menjelma masalah sosial dan ekonomi berantakan kemudian masalah ancaman stabilitas keuangan menjadi sangat nyata, ” kata Sri Mulayani dalam konferensi pers di  Jakarta.

Bila hal ini terus berlanjut maka keberlanjutan kehidupan sebagian masyarakat akan terancam. Urusan ekonomi, urusan perut, urusan kesehatan akan menjadi benar runyam. Negara pun punya pemisah kemampuan dalam terus menanggung seluruh kehidupan masyarakat di masa akan datang.

Untuk tersebut, perlu menyeimbangkan urusan kesehatan secara ekonomi. Mulai menggairahkan kembali kesibukan ekonomi namun tetap mengedepankan aturan COVID-19.

Akan ada kebiasaan baru, budaya baru, ragam hidup baru yang akan membangun masyarakat siap hidup bersama COVID-19 di segala sektor termasuk sektor industri, dunia usaha, sektor pendidikan, sektor perdagangan, sektor jasa serta sektor pengangkutan

“Selama vaksin belum ditemukan, obat spesifik belum ditemukan lebih baik kita menyiapkan diri untuk hidup dengan COVID-19 artinya kita bergerak dalam paradigma normal baru atau kelaziman baru, new wajar , ” kata Menteri Riset dan Teknologi Bambang PS Brodjonegoro dalam webinar, Jakarta, Senin.

Baca selalu: Merry Riana: Tunda kesenangan buat kemenangan lebih besar

Baca juga: AP I siapkan pedoman kesehatan di situasi “new normal”

Tidak ketat

Ada beberapa penyakit dengan sampai saat ini belum terlihat vaksinnya yakni demam berdarah & HIV, namun masyarakat tetap mampu hidup bersama dengan penyakit itu. Ini juga harus bisa dikerjakan saat menghadapi wabah COVID-19, meskipun ini sulit.

Secara kehidupan new wajar , masyarakat diharapkan bisa beraktivitas normal meskipun tidak seperti dengan dulu karena tentunya harus menerapkan kebiasaan baru, aturan baru & protokol spesifik untuk mencegah penularan COVID-19.

Setidaknya dalam kondisi normal baru ini, klub bisa menjalankan kegiatannya tetapi tidak seketat seperti yang terjadi di pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sekarang ini.

Bagaimanapun, kata Menristek Bambang, selama vaksin atau obat belum ditemukan, suka tidak mau jaga jarak tetap akan ada dalam berbagai wujud, dan semua itu harus dibuat dalam panduan menyeluruh yang dibutuhkan dalam kehidupan new normal .

Seluruh protokol mengenai kehidupan normal gres harus berdasarkan kajian ilmiah, tidak semata-mata informasi belaka. Masukan sebab para ahli terkait termasuk cakap epidemiologi menjadi penting dalam membangun skenario kehidupan normal baru.

Untuk itu, Menristek Bambang mendorong seluruh peneliti dan akademisi di Tanah Air untuk melangsungkan riset terkait penyiapan kehidupan normal baru. Protokol-protokol COVID-19 di setiap sektor harus dibuat secara detail dan dijalankan secara disiplin.

Protokol itu akan menjelma panduan bagaimana masyarakat berperilaku dalam menjalani aktivitas saat harus hidup bersama COVID-19, misalnya implementasi bangun jarak jika berada di udara, sektor retail, mal, restoran, kampus, dan sekolah. Bahkan, juga harus diatur bagaimana seharusnya jaga langkah saat menonton film di hidup.

“Tentunya bisa dilakukan penelitian sejauh mana masyarakat itu siap menghadapi normal baru atau sejauh mana masyarakat siap bertemu kenyataan bahwa kondisi normal sebelumnya yang mungkin tidak akan terlihat lagi dalam waktu yang lama, ” tuturnya.

Baca juga: PT Telkom siap jalankan skenario “The New Normal” setelah Lebaran

Baca juga: KAI siapkan protokol antisipasi skenario “the new normal”

Protokol baru

Protokol itu bertujuan untuk menebus kehidupan masyarakat tapi tetap secara mengedepankan upaya pencegahan penularan COVID-19.

“Kehidupan normal baru,   detailnya itu harus sungguh biasa, tidak bisa pakai adat standar seperti sekarang orang pakai masker, orang cuci tangan, ini sudah harus spesifik, misalkan kalau di retail seperti apa, terangkat pesawat seperti apa, mau nonton film di bioskop seperti apa, mau ke kuliah atau madrasah seperti apa, ” tuturnya.

Dalam skema  normal terakhir, skrining dengan tes diagnostik cepat juga akan sangat berperan istimewa di masa depan karena ulangan cepat bisa menjadi penyeleksi. Ke depannya, tidak bisa hanya menyandarkan pengecek suhu tubuh saja.

Dengan tes cepat COVID-19 itu, akan dapat diputuskan misalkan apakah seseorang itu bisa terangkat pesawat terbang dan apakah seseorang itu bisa menghadiri suatu pertemuan bersama yang banyak orang ataupun masuk ke tempat yang penuh orang. Jika orang itu tentu, maka tentu tidak bisa melangsungkan penerbangan dengan pesawat dan menghadiri acara tertentu.

Sebab karena itu, perangkat tes segera COVID-19 ke depannya harus dikembangkan untuk lebih cepat, lebih gampang dan juga lebih akurat di mendeteksi COVID-19. Tingkat sensitivitasnya harus semakin ditingkatkan.

Ke depan riset terkait jaga jarak (distancing) juga diperlukan dalam mengaduk-aduk skema kondisi normal baru dengan sesuai untuk diberlakukan di daerah Indonesia.

“Sektor ekonomi itu harus melakukan penelitian dengan berbasis epidemiologis bekerja sama dengan ahli epidemiologi untuk memastikan nanti protokol untuk bidang tertentu semacam apa, ” tuturnya.

Baca juga: Keinginan “the new normal” dunia bisa jadi peluang bagi Indonesia

Baca serupa: Bank Mandiri terapkan protokol COVID-19 sambut “The New Normal”

Negeri jiran

Di Malaysia, telah mulai dibuka kegiatan relaksasi akan tetapi dengan batasan yang sangat saksama, seperti restoran tidak boleh diisi penuh bahkan ada kuota utama restoran hanya boleh didatangi sekian orang.

Di Thailand, toko-toko menyediakan kantong plastik untuk menempatkan uang tunai dari serta ke pelanggan saat melakukan transaksi belanja. Dengan begitu, konsumen tak harus menyentuh langsung uang kertas yang diberikan oleh toko tapi mendapatkannya dalam plastik.

Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus penyebab COVID-19 dengan masih bisa melekat baik di kertas atau material lain.

Dalam skema “new normal”, bisa saja diatur dengan jaga jarak saat dalam pesawat, entah harus ada bangku yang tak diisi atau bisa diisi semua tapi harus memakai pelindung muncul seperti face shield, masker & sarung tangan. Protokol di setiap sektor dalam skema kehidupan biasa baru hanya bisa disiapkan lewat riset. *

Baca juga: Taspen siapkan Protokol COVID-19 sambut “The New Normal”

Baca juga: PTBA tunggu kesimpulan pemerintah berlakukan masuk kerja dalam kantor

Oleh Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Author Image
illvolef304b354