BI: Kita tidak menuju suatu titik resesi, ini indikatornya

Ini masih dini tapi menggambarkan kita tidak menuju suatu titik resesi sebagaimana dikhawatirkan banyak orang

Jakarta (ANTARA) – Bank Nusantara (BI) optimistis perekonomian Indonesia tahun 2020 tidak mengalami resesi pada tengah pandemi COVID-19 karena sebanyak indikator perdagangan global termasuk ekspektasi masyarakat, mulai menunjukkan tanda pemeriksaan.

“Ini masih dini akan tetapi menggambarkan kita tidak menuju sejenis titik resesi sebagaimana dikhawatirkan penuh orang, ” kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo dalam webinar Mengelola Disrupsi Teknologi Keuangan dan Perubahan Iklim di Jakarta, Jumat.

Menurut tempat, berdasarkan survei BI sebelumnya indikator ekspektasi masyarakat pada Mei 2020 berada pada titik yang landai, namun ada harapan penurunannya bakal berhenti. Artinya, lanjut dia, ekspektasi positif dan optimisme mulai lahir terhadap perbaikan ekonomi.
Indeks ekspektasi itu berada pada kawasan yang optimis dengan indeks 104, 9, meski masih turun dibandingkan April 2020 mencapai 106, 8.

Menyuarakan juga: Sri Mulyani sebut ekonomi dunia sudah resesi akibat COVID-19

Masukan sementara lainnya, lanjut dia, perdagangan dunia yang mulai dibuka lupa satunya di China sebagai salah satu mitra dagang terbesar Nusantara.

Dampaknya, lanjut dia, indeks manufaktur Indonesia atau Purchasing Managers Index (PMI) berdasarkan bahan HIS Markit pada Mei terangkat mencapai 28, 6, membaik dipadankan April 2020 mencapai 27, 5.

Sedangkan memasuki lazim baru pada Juni 2020 kemampuan PMI kembali terangkat menjadi 39, 1.

“Risiko investasi relatif pada perlambatan tertahan yang menandakan ada beberapa kegiatan manufaktur sudah mulai bergerak karena link secara dibukanya ekspor ke China, ” ucapnya.

Baca juga: BI paparkan indikator yang bakal bikin ekonomi RI membaik kuartal III

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2020 mencapai 10, 53 miliar dolar GANDAR atau surplus 2, 1 miliar dolar AS dibandingkan impor 8, 44 miliar dolar AS. Sebesar 17, 04 persen ekspor Nusantara menuju China dengan komoditas dengan paling banyak diekspor di antaranya tukul dan baja.

“Kinerja ekspor itu relatif ada kaum komoditas emas, besi, dan baja, itu relatif baik dan dalam waktu dekat nikel sepanjang itu segera dibuka akan memberi dorongan ekspor, ” katanya

Adapun kategori negara mengalami resesi apabila selama dua kuartal berendeng pertumbuhan ekonominya negatif.

Baca juga: IMF prediksi resesi global, pertumbuhan diproyeksikan minus 4, 9 persen

BPS sebelumnya mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kuartal pertama 2020 mencapai dua, 97 persen atau menurun dibandingkan pertumbuhan rata-rata di atas 5 persen.

Namun, buat triwulan kedua tahun ini, sendat dia, pertumbuhan ekonomi RI diperkirakan merosot bahkan Kementerian Keuangan meramalkan mencapai minus 3, 8 tip.

“Ini karena ada shock pada suplai dan permintaan selalu disrupsi terhadap suplai, ” imbuhnya.

Menyuarakan juga: Sri Mulyani kejar pemulihan ekonomi terjadi di kuartal III dan IV 2020

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © JARANG 2020

Author Image
illvolef304b354