Kepala Jokowi beberkan upaya RI muncul dari “middle income trap”

Satu abad Republik Indonesia sudah dekat di 2045 nanti, status 25 tahun, mari cetak cerita mari buktikan kita tidak terjebak middle income trap

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memaparkan beberapa upaya biar Indonesia bisa kembali naik posisi menjadi negara berpendapatan tinggi, & keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Dalam Konferensi Forum Rektor Nusantara (FRI) secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu, Presiden Jokowi mengungkapkan banyak negara di negeri yang menghabiskan puluhan tahun, bahkan hampir ratusan tahun terjebak di dalam status negara berpendapatan menengah.

“Itulah yang tidak kita inginkan. Pertanyaannya apakah kita punya peluang untuk keluar dari middle income trap . Saya jawab tegas, kita memiliki peluang besar, kita punya potensi besar, ” ujar Presiden Jokowi.

Pada 1 Juli 2020 lalu Bank Dunia mutakhir saja menaikkan status Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income country) dari negeri berpendapatan menengah bawah. Hal itu karena Indonesia telah memiliki pendapatan nasional bruto ( Gross National Income/ GNI) sejumlah 4. 050 dolar AS di 2019, atau naik dari 3. 840 dolar AS.

Baca juga: Luhut kaget Bank Dunia naikkan status Indonesia di tengah pandemi

GNI ialah pendapatan yang diterima negara daripada penduduk, pengusaha, termasuk dari bahan dan jasa yang diproduksi serta dijual ke luar negeri serta investasi luar negeri.

Meski naik status, Indonesia masih berada di level negara berpendapatan menengah. Presiden Jokowi mengingatkan Nusantara memiliki peluang besar untuk balik naik status menjadi negara berpendapatan tinggi dengan beberapa syarat.

Pertama, Indonesia harus memiliki infrastruktur yang efisien. Kemudian, Nusantara juga perlu memiliki sistem kerja yang kompetitif, cepat, dan mengarah pada hasil.

“Ini sudah mulai kita bangun. Kita butuh kerja cepat kompetitif, yang berorientasi pada hasil. ini yg terus kita upayakan, ” ujar Presiden Jokowi.

Selain itu Indonesia juga perlu Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, produktif, inovatif, dan kompetitif.

Baca selalu: Kemenkeu: RI naik status ialah modal menuju negara maju

“DI sinilah posisi strategisnya pendidikan tinggi yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mencetak generasi muda yang bersaing, yang selalu berjuang untuk kemanusiaan dan kemajuan RI, ” ungkap Presiden Jokowi.

Oleh karena itu, Presiden menekankan upaya untuk meningkatkan kualitas SDM tak bisa dilakukan dengan cara-cara normatif. Indonesia memerlukan strategi dan terobosan baru untuk melompat lebih jauh.

“Kita harus berubah, cari cara baru, mengembangkan desain baru, yang smart shortcut , yang out of the box , ” ujar Presiden Jokowi.

Presiden mengajak para rektor dan pemangku kepentingan di daerah pendidikan untuk memanfaatkan puncak premi demografi yang akan dinikmati Nusantara, dengan mencetak generasi muda yang unggul untuk membangun Indonesia Maju.

“Satu abad Republik Indonesia sudah dekat di 2045 nanti, tinggal 25 tahun, yuk cetak sejarah mari buktikan kita tidak terjebak middle income trap , mari kita buktikan 2045, Indonesia mampu oleh sebab itu negara berpenghasilan tinggi bagi semesta rakyat Indonesia, ” ujar Kepala Jokowi.

Baca juga: Empat pesan Presiden untuk Forum Rektor Indonesia

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Author Image
illvolef304b354