OJK perkirakan penyaluran kredit perbankan bahan bangkit pada Juli

OJK perkirakan penyaluran kredit perbankan bahan bangkit pada Juli

Kalau kita lihat Juni pasti turun, karena ini aktivitas ekonominya masih belum begitu bergerak dan anyar mulai pada Juli

Jakarta (ANTARA) – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memprediksikan penyaluran kredit perbankan masih akan tertekan pada Juni 2020 karena aktivitas perekonomian belum pulih secara maksimal.

“Kalau kita lihat Juni pasti mendarat, karena ini aktivitas ekonominya sedang belum begitu bergerak dan baru mulai pada Juli, ” sekapur Wimboh Santoso dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis.

Wimboh mengatakan pertumbuhan kredit perbankan untuk Mei 2020 hanya sejumlah 3, 04 persen (yoy) atau melambat dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 5, 73 persen (yoy).

Baca serupa: Luhut minta perbankan longgarkan metode administrasi kredit bagi UMKM

“Pertumbuhan pengaruh (Mei 2020) itu sudah mendarat hanya menjadi sekitar 3 upah di mana akhir tahun kemarin 6 persen, ” ujar Wimboh Santoso.

Menurut dia, pertumbuhan kredit perbankan baru hendak mengalami perbaikan pada Juli 2020 seiring dengan aktivitas masyarakat yang semakin kembali ke normal.

Oleh sebab itu Wimboh pun memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan hingga akhirusanah ini akan berada di level sekitar 3-4 persen.

Menyuarakan juga: Survei BI indikasikan pertumbuhan kredit triwulan II-2020 turun

Tak hanya itu ia erharap melalui cara pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi maka pertumbuhan kredit juga hendak kembali normal pada tahun aliran.

“Angka untuk Juli kelihatannya sudah mulai naik dan kita harapkan pada 2021 hendak lebih back to normal , ” kata Wimboh Santoso.

Selain itu ia menghargai rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) mulai mengalami kenaikan menjadi 3, 1 persen dari sebelumnya dengan hanya sekitar 2, 8-2, 9 persen.

Baca juga: OJK sebut perbankan lakukan restrukturisasi senilai Rp769, 55 triliun

Ia menjelaskan penyebab NPL berangkat naik karena adanya beberapa perbankan yang tidak 100 persen memaksimalkan kebijakan restrukturisasi.

“Direstrukturisasi iya, tapi cadangan penghapusan tentu dibuat. Ada beberapa bank dengan begitu sehingga NPL-nya naik, ” kata Wimboh Santoso.

Meski demikian ia mengatakan peristiwa tersebut tidak masalah karena pihaknya tak hanya mengamati angka NPL berdasarkan restrukturisasi tapi juga NPL yang tidak berdasarkan restrukturisasi.

“Tidak ada masalah. Kita mempunyai dua angka yaitu angka NPL yang berdasarkan restrukturisasi dan NPL yang tidak berdasarkan restrukturisasi, ” kata Wimboh Santoso.

Baca pula: OJK sebut strategi pemulihan ekonomi dorong permintaan domestik

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Author Image
illvolef304b354