Dinkes DKI: Alasan pelarangan makan dalam tempat adalah penggunaan masker

Dinkes DKI: Alasan pelarangan makan dalam tempat adalah penggunaan masker

pada saat makan bersama dengan membuka masker, dengan jarak yang relatif dekat, itu bisa berisiko saling menularkan

Jakarta (ANTARA) – Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebut alasan pelarangan makan pada tempat pada restoran atau kafetaria selama Pembatasan Sosial Berskala Gede (PSBB) Jakarta jilid II serupa dalam Pergub Nomor 88 Tahun 2020, adalah penggunaan masker.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan alasan tersebut sebab saat orang makan akan membiarkan masker yang berpotensi menyebabkan penularan COVID-19.

Baca juga: Survei: Penyebaran COVID-19 dan PSBB tekan usaha ritel dan restoran

“Pada saat makan, era makan pakai masker, buka masker kan, pada saat buka masker kadang-kadang tingkat disiplinnya berkurang jadi katakanlah restonya sudah menyiapkan setting kursi dengan berjarak, tetapi masih tersedia yang berhadap muka, mejanya mulia, berhadapan muka, buka masker, satu keluarga makan bersama. Nah, itu yang menyebabkan risiko pada era makan bersama dengan membuka masker, dengan jarak yang relatif dekat, itu bisa berisiko saling menularkan, ” ujar Widyastuti dalam rekaman video Pemprov DKI yang dipantau di Jakarta, Sabtu.

Lebih lanjut, Widyastuti menyebutkan bahwa kebanyakan orang merasa aman, akhirnya abai untuk menerapkan protokol kesehatan ketika bersama dengan orang yang dikenalnya, meski fakta  memperlihatkan 50 persen kasus positif di Jakarta merupakan orang tanpa gejala (OTG).

Mengucapkan juga: Langgar protokol kesehatan, besar perkantoran dan 119 restoran ditutup

“Jadi, merasa aman, ‘oh, makan secara keluarga sendiri nih, makan secara teman kantor sendiri nih’, Nggak tahu kalau teman kantornya itu belum pernah diperiksa dan tidak ada gejala. Kan pernah kita bahas, di Jakarta sekitar 50 persen tanpa gejala. Pada masa tanpa gejala, makan bersama, buka masker, duduk bersama, makan. Lazimnya orang makan ngobrol nggak? Prasmanan, sambil cerita, pasti buka masker. Di situlah risikonya, ” ujarnya.

Widyastuti menyebutkan bahwa saat makan bersama risiko droplet ataupun percikan liur akan  meningkatkan risiko penularan virus.

“Iya, droplet -nya itu akan keluar saat prasmanan bersama ketika kita cerita serta sebagainya, inilah yang jadi alasan Pemprov meminta untuk makanan dibawa pulang saja, ” ujar Widyastuti.

Menyuarakan juga: Langgar protokol kesehatan PSBB Jakarta, 23 restoran disegel

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta memutuskan kembali menerapkan PSBB ketat. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, dalam iklim tersebut, restoran hingga kafe sedang diperbolehkan beroperasi, tapi tak bisa makan di lokasi.

“Kegiatan usaha makanan, rumah santap, restoran, kafe, diperbolehkan untuk lestari beroperasi, tetapi tidak diperbolehkan buat menerima pengunjung makan di lokasi, ” ujar Anies dalam keterangannya, Rabu (9/9).

Restoran hingga kafe hanya diizinkan menyambut pesanan take away atau dibawa pulang. Anies menyebut tempat-tempat usaha makanan ini mungkin  menjadi perantara penularan COVID-19.

“Jadi pesanan diambil, pesanan diantar, tapi tak makan di lokasi. Karena kita menemukan di tempat inilah terjadi interaksi yang mengantarkan terjadinya penularan, ” kata Anies.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Author Image
illvolef304b354