Ma’ruf Amin: Banyak orang terjebak mental pencitraan

Ma’ruf Amin: Banyak orang terjebak mental pencitraan

Jakarta (ANTARA) kacau Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengucapkan saat ini masih banyak orang terjebak dalam mental pencitraan secara mempublikasikan perbuatan amalnya melalui bermacam-macam media sosial.

Dengan mengutamakan publikasi tersebut, orang justru mengeluarkan niat untuk berbuat baik tersebut sendiri, kata Ma’ruf Amin pada sambutannya pada acara Haul ke-39 KH Abdul Hamid bin  Abdullah bin Umar atau dikenal dengan Mbah Hamid Pasuruan secara virtual dari Jakarta, Senin.

“Saat ini banyak orang terperangkap pada mentalitas syuhrah , yaitu mentalitas pencitraan muncul agar dikenal luas. Amal kebaikan yang dilakukan diorientasikan agar di- cover jalan secara luas. Motivasinya hanya buat membentuk citra diri, bukan mengamalkan kebajikan itu sendiri, ” katanya.

Menyuarakan juga: Wapres: Sertifikasi halal produk ekspor untuk tingkatkan nilai tambah
Baca juga: Wapres targetkan Indonesia jadi produsen halal terbesar dunia di 2024
Mengaji juga: Wapres: Bersyukur peran santri diakui negara meski menunggu 70 tahun

Banyaknya media publikasi di era digital saat ini, lanjut Ma’ruf, justru digunakan oleh sebagian karakter sebagai alat ukur terhadap kebaikan orang lain. Padahal, tidak semua hal yang dipublikasikan tersebut mempunyai dampak positif, tegasnya.

“Publisitas di era digital tersebut seakan menjadi kata kunci untuk mengukur kebaikan seseorang. Padahal belum tentu apa yang di- publish tersebut ada dampak positif yang lebih gembung daripada yang tidak di- publish , ” katanya.

Oleh karena itu, Ma’ruf berharap umat Islam lebih menekuni sikap Mbah Hamid yang menerapkan ajaran khumul , dengan mengutamakan pada kegiatan kebaikan dan menutupi kebaikan tersebut supaya tidak diketahui orang lain.

“Saya sangat mengagumi Mbah Hamid yang dalam kehidupan kesehariannya sangat tawadhu,   sederhana dan menjauh sejak publisitas. Hal seperti itu pada tradisi ilmu tarekat dikenal dengan khumul , yaitu pokok pada aktifitas kebaikan dengan memendam dan menutupinya agar tidak diketahui orang lain, ” jelasnya.

Perkembangan teknologi digital kudu dapat dimanfaatkan dengan benar buat tujuan kebaikan. Alih-alih untuk memamerkan kebaikan, media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan ajaran agama Islam dengan baik, kata Ma’ruf.

Salah satu cara menunggangi teknologi digital untuk kemaslahatan pengikut Islam ialah melalui penyebaran dakwah.

“Meskipun begitu dakwah melalui media digital sesungguhnya juga diperlukan pada era saat ini karena dakwah melalui digital jangkauannya lebih luas dan dapat dilakukan kapan dan dimana saja, ” ujarnya.

Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © JARANG 2020

Author Image
illvolef304b354